Viking Stavanger Punya Dua Pelatih Kepala, Kini Tantang Bayern di Liga Champions

Viking Stavanger menjadi salah satu klub yang menarik perhatian dalam kompetisi sepak bola Eropa musim 2026/2027. Klub asal Norwegia tersebut memiliki sistem kepelatihan tidak biasa karena mempercayakan posisi pelatih kepala kepada dua orang sekaligus, yakni Morten Jensen dan Bjarte Lunde Aarsheim. Keduanya bekerja dengan kedudukan setara dan berhasil membawa Viking meraih gelar Liga Norwegia setelah penantian panjang selama 34 tahun. Kesuksesan tersebut mengantarkan Viking tampil di fase liga Liga Champions dan menghadapi Bayern Munich pada 13 Oktober 2026 di Lyse Arena. Pertandingan ini menjadi panggung penting untuk menunjukkan hasil kerja sama dua pelatih yang memiliki karakter berbeda tetapi saling melengkapi.
Viking Stavanger Terapkan Sistem Dua Pelatih Kepala yang Tidak Biasa
Penggunaan model kepemimpinan ganda di Viking Stavanger menciptakan keunikan tersendiri dalam dunia sepak bola profesional. Tidak seperti tim profesional pada umumnya, Viking menyerahkan tanggung jawab utama kepada Morten Jensen dan Bjarte Lunde Aarsheim secara setara. Pasangan pelatih asal Norwegia tersebut tidak menggunakan pembagian hierarki antara pelatih utama dan asisten. Sebaliknya, keduanya berbagi kewenangan dalam menyusun strategi. Sistem tersebut menuntut komunikasi yang terbuka, pembagian pekerjaan yang terarah, serta kesamaan visi mengenai identitas permainan.
Kolaborasi dua sosok tersebut membentuk fondasi strategis dalam kebangkitan klub. Kendati memiliki karakter dan pendekatan berbeda dalam sejumlah aspek, keduanya berhasil menggabungkan kelebihan masing-masing untuk membangun kerja sama. Jensen digambarkan menunjukkan kecenderungan menekankan kemungkinan pengembangan, sedangkan Aarsheim menawarkan pendekatan yang lebih praktis. Keselarasan dua pendekatan berbeda berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang saling menghargai. Ketika menangani pemain, perbedaan pendapat berpotensi memberikan kesempatan untuk mempertimbangkan keputusan secara matang sebelum menetapkan strategi.
Kisah Morten Jensen dan Bjarte Lunde Aarsheim Membangun Karier
Kisah profesional Morten Jensen dan Bjarte Lunde Aarsheim menawarkan pengalaman unik sebelum keduanya mencapai level tertinggi. Sebelum menjadi pelatih profesional, Aarsheim menjalani pekerjaan di sebuah bank, sedangkan Jensen bekerja dalam bidang energi. Sambil memenuhi tanggung jawab pekerjaan, keduanya melanjutkan aktivitas dalam pengembangan tim sepak bola setempat. Kedekatan Jensen dan Aarsheim memiliki sejarah panjang. Lebih dari satu dekade lalu, keduanya mulai mendiskusikan keinginan berkiprah pada level sepak bola yang lebih tinggi.
Harapan kedua sahabat itu mulai menemukan jalannya ketika Viking menunjuk keduanya pada November 2020. Keputusan manajemen klub membuka babak baru perubahan dalam pengelolaan tim. Bukannya memilih struktur dengan satu kepala pelatih dan satu asisten, Viking mengembangkan sistem yang menempatkan keduanya pada tingkat yang sama. Kepercayaan tersebut memerlukan komitmen untuk menghadapi tekanan pertandingan secara profesional. Seiring berjalannya waktu, pasangan pelatih ini berhasil mengembangkan identitas permainan yang semakin jelas, sekaligus memperkuat kemampuan Viking untuk menghadapi lawan di Liga Norwegia.
Gelar Liga Norwegia 2025 Menjadi Bukti Keberhasilan Dua Pelatih
Salah satu hasil paling berkesan dari kolaborasi Jensen dan Aarsheim hadir melalui keberhasilan memenangkan kompetisi Eliteserien musim 2025. Gelar tersebut mengakhiri penantian panjang Viking selama 34 tahun sejak gelar liga sebelumnya pada 1991. Bagi para pendukung, pencapaian tersebut menjadi momen bersejarah karena membawa tim kembali ke jajaran juara nasional. Prestasi ini menambah kepercayaan terhadap model kepemimpinan bersama. Walaupun begitu, keberhasilan Viking tetap bergantung pada kontribusi para pemain, staf pendukung, dan arah pengembangan organisasi.
Menjuarai kompetisi domestik memberikan kesempatan Viking untuk memasuki Liga Champions UEFA 2026/2027. Kesempatan tampil di kompetisi Eropa membuka tantangan berbeda bagi klub yang memiliki pengalaman terbatas di panggung elite Eropa. Viking pernah menghadapi Barcelona pada kompetisi Eropa musim 1992/1993, tetapi kesempatan menjalani format utama saat ini menghadirkan tingkat persaingan baru. Dalam kompetisi terbaru, Viking dapat menguji kemampuan menghadapi klub dari liga-liga besar. Kesempatan tampil pada level tertinggi juga meningkatkan tuntutan terhadap kedalaman skuad serta pengelolaan jadwal pertandingan.
Pertandingan Melawan Bayern Jadi Ujian Besar Dua Pelatih Viking
Pertemuan Viking Stavanger dengan Bayern Munich menghadirkan tantangan besar dalam pengalaman internasional tim Norwegia. Pertandingan fase liga itu dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 13 Oktober 2026, di Lyse Arena, Stavanger, dengan waktu mulai pukul 21.00 waktu setempat. Untuk kesebelasan tuan rumah, pertandingan tersebut merupakan laga kandang pertama dalam fase liga Liga Champions modern. Kesebelasan asal Jerman tersebut memiliki pengalaman panjang di kompetisi elite Eropa. Bertemu klub berpengalaman seperti Bayern memerlukan Viking untuk menampilkan kedisiplinan taktik sejak pertandingan dimulai hingga laga selesai.
Sebelum menghadapi Bayern, Viking sebelumnya memainkan Stuttgart pada pertandingan pembuka fase liga. Pada pertandingan pertama itu, Viking belum berhasil memperoleh poin dengan skor 1-3. Pencapaian yang belum maksimal itu memberikan bahan evaluasi bagi jajaran kepelatihan bersama. Sebagai perbandingan, Bayern Munich mengawali kompetisi secara positif setelah menundukkan Bodø/Glimt dengan skor 5-0. Catatan pertandingan pertama kedua tim memperlihatkan adanya tantangan kompetitif yang harus dipersiapkan Viking. Meski begitu, pertandingan sepak bola bergantung pada pelaksanaan strategi selama laga dan ketahanan menghadapi tekanan.
Tantangan Kepelatihan Viking Melawan Tim Asuhan Vincent Kompany
Menjalani pertandingan kontra tim asuhan Vincent Kompany memerlukan persiapan taktik yang matang dari Viking Stavanger. Pasangan pelatih Viking harus memperhatikan cara membangun struktur tim ketika berhadapan dengan serangan Bayern. Faktor yang perlu diperhatikan adalah koordinasi antarpemain. Jika pemain kehilangan koordinasi, lawan berpotensi menemukan celah untuk menciptakan peluang. Karena itu, Viking harus menjaga komunikasi yang jelas antara lini pertahanan serta tengah. Pendekatan permainan yang dipilih sebaiknya memperhatikan karakter pemain yang tersedia.
Di samping kemampuan bertahan, Viking juga membutuhkan pendekatan menyerang yang terukur. Dalam menghadapi lawan kuat, kesempatan melakukan transisi dapat menentukan momentum permainan. Kombinasi operan cepat memungkinkan tim Norwegia keluar dari situasi sulit. Pada saat yang sama, pengalaman bermain di Lyse Arena yang menggunakan lapangan sintetis merupakan unsur yang perlu diperhitungkan. Pemain Viking telah mengenal bermain pada permukaan tersebut, sedangkan Bayern perlu menyesuaikan karakter pantulan serta pergerakan bola. Walaupun faktor lapangan relevan, keunggulan kandang tetap membutuhkan performa yang baik.
Kesimpulan: Dua Pelatih Bawa Viking Stavanger ke Panggung Eropa
Kebangkitan klub asal Norwegia menggambarkan bahwa sistem kerja sama dua pelatih mampu menghadirkan pencapaian penting apabila diterapkan secara konsisten. Kedua pelatih utama Viking memainkan peran dalam membawa tim menuju prestasi juara kompetisi domestik, kemudian memasuki persaingan Liga Champions UEFA 2026/2027. Kesempatan menantang klub asal Jerman menjadi ujian mengenai kesiapan kompetitif mereka pada persaingan elite Eropa. Di luar kemungkinan hasil laga, perjalanan Viking menjadi contoh berharga mengenai pentingnya kolaborasi dalam membangun klub. Bagaimana menurut Anda mengenai sistem dua pelatih kepala? Sampaikan pandangan Anda tentang masa depan sistem dua pelatih dalam sepak bola profesional.








